SNIPER86.COM, Pasuruan – Senyum haru dan rasa syukur menyelimuti raut wajah Nurul Ahmad (41), seorang buruh bangunan asal Dusun Payaman, Desa Ngerong, Kecamatan Gempol,Kabupaten Pasuruan, Selasa (29/09/2026).
Impian Nurul untuk memberikan tempat bernaung yang aman bagi anak dan istrinya akhirnya terwujud, berkat ulur tangan dari DPD Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) Pasuruan melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS).
Awal pembangunan tempat tinggal baru ini ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama yang berlangsung penuh khidmat pada pertengahan September lalu. Program renovasi total ini digulirkan tanpa memungut biaya sepeser pun dari pihak penerima manfaat.
Penetapan keluarga Nurul sebagai penerima bantuan diawali dari verifikasi data organisasi DHIBRA, yang dilanjutkan dengan peninjauan lapangan secara langsung oleh tim OPSHID Pasuruan. Dari hasil pengecekan di lokasi, kondisi bangunan lama memang tergolong berisiko tinggi.
Perwakilan OPSHID FKYME Pasuruan, Naf'an, menyebutkan bahwa tempat tinggal Nurul sebelumnya jauh dari standar kesehatan dan keamanan. Sebagian besar sekat ruang hanya memanfaatkan susunan anyaman bambu (gedek) yang berlubang serta tutupan seng bekas berlapis karat. Lebih memprihatinkan lagi, penopang atapnya mengandalkan bambu lapuk yang rawan roboh sewaktu-waktu.
Keadaan tersebut berbanding lurus dengan himpitan ekonomi yang dialami keluarga ini. Saban hari, Nurul harus mengandalkan upah kasar sebagai kuli batu yang jumlahnya tak menentu dan hanya cukup untuk menopang kebutuhan dapur harian.
Meski sang istri baru saja mulai membantu keuangan keluarga dengan bekerja di program Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tabungan mereka tetap tak terjangkau untuk biaya perbaikan bangunan.
Kejutan besar itu datang saat Nurul tengah memeras keringat di tempat kerja tetangganya. Ia mendadak diminta kembali ke rumah oleh utusan organisasi. Tanpa disangka, kedatangan rombongan tersebut membawakan kepastian renovasi total atas huniannya.
"Kaget luar biasa dan bercampur aduk. Saya bersama istri tak sanggup menahan air mata haru. Saat itu sedang mengaduk semen di rumah tetangga, mendadak dipanggil pulang dan ditanyai kesediaan untuk dibangunkan rumah baru secara cuma-cuma. Sungguh sebuah kejutan yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya," ungkap Nurul.
Rencananya, RSLHS yang didirikan untuk keluarga Nurul dirancang dengan spesifikasi luas 5 x 7 meter. Proses pengerjaan diperkirakan memakan waktu sekitar tiga hingga empat pekan.
Hingga kini, pengerjaan di lapangan terus dikebut melalui skema gotong royong yang melibatkan jajaran kader OPSHID, warga Shiddiqiyyah, serta masyarakat sekitar Gempol.
Lewat aksi kemanusiaan ini, organisasi berharap kehadiran RSLHS tidak sekadar menghadirkan dinding berteduh yang kokoh, namun juga mengangkat harkat hidup serta memberikan kenyamanan jangka panjang bagi keluarga penerima.*(Irfan)





