• Pencarian

    Copyright © sniper86.com
    Best Viral Premium Blogger Templates


     

    Gelar Petik Laut Tahun 2026, Ratusan Warga Padati Pesisir Kota Pasuruan

    Minggu, 28 Juni 2026, 7:32:00 PM WIB Last Updated 2026-06-28T12:33:20Z

    SNIPER86.COM, Kota Pasuruan - Suasana di sepanjang jalan protokol hingga kawasan pesisir Kota Pasuruan mendadak riuh dan penuh warna sejak pagi, Minggu (28/6/2026). 

    Ratusan nelayan, tokoh masyarakat, hingga wisatawan dari berbagai daerah menyemut untuk menyaksikan langsung tradisi tahunan Petik Laut atau Sedekah Laut, yang digelar dengan sangat meriah.

    ​Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Muharram atau Suro dalam kalender Jawa ini menjadi bentuk rasa syukur komunal atas melimpahnya hasil tangkapan laut, sekaligus ruang doa bersama demi keselamatan para pelaut Kota Pasuruan.

    Kirab Larung tahunan ini diinisiasi oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan, yang bersinergi erat dengan warga Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. 

    ​Kemeriahan pesta rakyat ini dimulai tepat pukul 07.00 WIB. Titik kumpul massa dipusatkan di depan Kantor Kecamatan Panggungrejo. Dari sana, rombongan bergerak melakukan kirab budaya (pawai) menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang bertempat di wilayah Kelurahan Ngemplakrejo.


    Sepanjang rute kirab, masyarakat disuguhi berbagai pertunjukan seni dan budaya yang memukau, di mulai dari alunan musik drum band, barongasai & pencak silat khas Ngemplakrejo. Perpaduan berbagai unsur seni ini menegaskan, bahwa pesisir Kota Pasuruan merupakan ruang peleburan budaya yang kaya, harmonis, dan inklusif.

    Momen ikonik terlihat ketika para pemuda dari Kelurahan Ngemplakrejo dengan penuh semangat bergotong-royong memanggul kepala sapi dan miniatur kapal tersebut, bersama para nelayan senior menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sinergi antar generasi ini menjadi bukti nyata, bahwa tradisi ini masih mengakar kuat di hati generasi muda.

    ​Sesampainya rombongan di TPI Ngemplakrejo, atmosfer berubah menjadi lebih khidmat dan sakral. Inti dari ritual adat ini ditandai dengan prosesi melarung sesaji (gitik) ke tengah laut. Sebuah miniatur kapal kayu berukuran sekitar dua meter telah dihias sedemikian rupa dengan janur kuning dan umbul-umbul. Di dalamnya diisi dengan aneka makanan tradisional dan hasil bumi, buah-buahan segar, satu kepala sapi utama yang dibungkus ronce bunga melati segar.

    Lantunan doa melebur bersama deburan ombak saat pemberangkatan rombongan petik laut dimulai. Prosesi ini dikomandani langsung oleh Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, bersama jajaran Muspida setempat.

    ​Sebanyak puluhan kapal milik nelayan yang telah dihias dengan bendera warna-warni ikut bergerak mengawal kapal utama.

    Setelah menempuh perjalanan laut sejauh kurang lebih 1,5 mil laut dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, miniatur kapal berisi sesaji tersebut resmi diceburkan ke laut lepas setelah sebelumnya dilakukan doa bersama yang khidmat di atas dek kapal.

    ​Walikota Pasuruan Adi Wibowo menegaskan, bahwa Petik Laut bukan sekadar ritual seremonial tahunan, melainkan warisan leluhur yang sarat akan nilai kebersamaan, gotong royong, dan mitigasi spiritual bagi warga pesisir.

    ​"Melalui prosesi ini, kita berdoa untuk keselamatan para nelayan dan warga pesisir. Selain itu, kegiatan ini memiliki potensi besar menggerakkan ekonomi masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, seniman, hingga sektor wisata kreatif di Kota Pasuruan," ujar mas adi di sela-sela acara.

    ​Bagi para nelayan lokal, tradisi ini memuat asa dan harapan besar di tengah tantangan cuaca ekstrem yang tidak menentu serta lesunya kondisi ekonomi saat ini.

    Di Kota Pasuruan sendiri, tercatat ada sekitar ratusan nelayan aktif, di mana sebagian besar dari mereka masih berstatus sebagai buruh nelayan yang bergantung pada para pemilik kapal besar (juragan).

    ​"Kami berharap setelah ritual ini, nasib nelayan bisa lebih sejahtera, tangkapan ikan melimpah, dan laut tetap bersahabat dengan kami saat mencari nafkah," ungkap Rudi, salah satu nelayan asli asal Kelurahan Ngemplakrejo. 

    ​Magnet Wisata dan Tradisi "Ngalap Berkah"
    ​Kemeriahan tradisi pesisir ini terbukti menjadi magnet pariwisata yang kuat. Fatchur, seorang pengunjung asal Kabupaten Pasuruan yang datang memboyong seluruh keluarganya, mengaku sangat terkesan dengan atmosfer yang disuguhkan.

    ​"Selama ini cuma dengar cerita dari orang-orang atau lihat di media sosial. Pas ikut dan melihat langsung ternyata seru dan meriah sekali. Apalagi tadi ada drumband, barongsai, sampai pencak silatnya. Semoga budaya guyub rukun seperti ini terus dilestarikan," kata Fatchur.

    ​Keseruan memuncak sesaat setelah miniatur sesaji tenggelam di air laut. Puluhan pemuda lokal langsung menceburkan diri ke laut dan saling menyiramkan air ke dek kapal. 

    Aksi saling siram air ini dipercaya membawa berkah (ngalap berkah), membersihkan bala, serta membawa keselamatan bagi kapal-kapal yang digunakan mencari nafkah.

    ​Rangkaian pesta rakyat ini tidak berhenti di tengah laut. Kemeriahan berlanjut hingga siang hari, di mana panitia telah menyiapkan panggung besar yang menyajikan pentas hiburan musik di sekitar area TPI Ngemplakrejo, sebagai penutup perayaan yang mempererat tali persaudaraan warga.*(Irfan)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini