SNIPER86.COM, Pasuruan - Sekalipun banjir 1 hari penuh yang sempat merendam jalur Pantai Utara (Pantura) akibat luapan Sungai Petung sudah surut, namun berdasarkan pantauan di lokasi, material lumpur cokelat tampak menutupi hampir seluruh permukaan aspal. Jejak roda kendaraan menciptakan alur-alur licin yang membuat laju kendaraan, terutama sepeda motor, menjadi tidak stabil.
Munculnya lumpur tebal ini merupakan residu dari banjir luapan Sungai Petung yang sebelumnya sempat memutus akses utama di jalur tersebut. Ketebalan lumpur yang bervariasi di beberapa titik jalan membuat aspal tidak terlihat sama sekali, sehingga membahayakan bagi mereka yang tidak terbiasa melintasi area tersebut.
Menanggapi permasalahan tersebut, Ketua Forum Rembuk Masyarakat (FORMAT) Pasuruan dan juga Pegiat Lingkungan Hidup "Rumah Hijau", Ismail Makky, mengatakan, berdasarkan data ESDM Provinsi Jawa Timur menunjukkan konsentrasi kegiatan pertambangan yang sangat besar di hulu Sungai Petung, khususnya di wilayah Kejayan (Kedungpengaron) dan Kejayan/Pasepan (Cobanjoyo).
"Total luas lahan terbuka, di Desa Kedungpengaron saja terdapat sekitar 52,6 Ha lahan operasional (OP), sementara di Cobanjoyo terdapat lebih dari 160 Ha lahan (campuran OP dan Eks/Eksplorasi). Lahan terbuka seluas ini menghilangkan fungsi serapan air tanah secara drastis," kata Ismail Makky.
Sedimentasi material, kegiatan operasional dari perusahaan seperti Bumi Gunung Hitam, Bumi Gunung Merah, Pasir Mas Munir, dan Herza Pasir Investama berisiko melepaskan sisa material tambang (sedimen) ke aliran sungai. Hal ini menyebabkan pendangkalan (sedimentasi) di dasar Sungai Petung, sehingga daya tampung air sungai berkurang tajam.
Laju Air (Run-off), tanpa vegetasi di area tambang, air hujan langsung mengalir ke sungai tanpa hambatan, memicu banjir bandang atau luapan air yang membawa lumpur ke wilayah pemukiman di hilir. Kondisi ini memerlukan evaluasi terkait kepatuhan dokumen Amdal atau UKL-UPL, terutama mengenai penyediaan kolam retensi (sediment pond) agar material tambang tidak langsung masuk ke badan sungai.
Berikut data ESDM Profinsi Jawa Timur terkait perusahaan tambang di hulu Sungai Petung, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan :
Desa Kedungpengaron
1. BUMI GUNUNG HITAM -> OP (7,08 Ha)
2. BUMI GUNUNG MERAH -> OP (22,98 Ha)
3. PASIR MAS MUNIR -> OP (11,01 Ha)
4. HERZA PASIR INVESTAMA -> OP (11,53 Ha)
Desa Cobanjoyo
1. PASIR MAS MUNIR (42.93 Ha) -> OP
2. PUTRA PUTRI MAHKOTA BERSAUDARA (31,04 Ha) -> Eks
3. PUTRA PUTRI MAHKOTA BERSAUDARA (65,09 Ha) -> Eks
4. SALI LUKMAN NGAWU (21,75 Ha) -> OP.*(Irfan)




