• Pencarian

    Copyright © sniper86.com
    Best Viral Premium Blogger Templates


     

    ​Aksi Damai oleh GM FKPPI terkait ‘Jalur Maut’ yang Telan 9 Korban Jiwa, Massa Blokir Pertigaan Bukir Pasuruan

    Rabu, 17 Juni 2026, 1:55:00 PM WIB Last Updated 2026-06-17T06:55:53Z

    SNIPER86.COM, Pasuruan - Gelombang kekecewaan masyarakat terkait kerawanan jalur alternatif selama proyek perbaikan jembatan bok wedi, tak kunjung mendapatkan respon yg memadai dari pemerintah daerah.

    Menanggapi hal itu, ratusan massa yang terdiri dari pengurus Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (GM-FKPPI) Kota Pasuruan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta warga sekitar menggelar aksi damai besar-besaran, Rabu (17/6/2026).

    ​Aksi yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB ini menyoroti kondisi darurat di jalur alternatif kota yang kini dijuluki sebagai "jalur maut". Jalur rawan tersebut membentang mulai dari kawasan Kecamatan Kraton, Jalan Gatot Subroto, hingga wilayah Kebonagung. 

    Hingga saat ini, jalur tersebut dilaporkan telah merenggut sedikitnya 9 korban jiwa.
    ​Ketua PC GM-FKPPI Kota Pasuruan, Ayik Suhaya yang memimpin langsung pergerakan massa, menyampaikan orasi bernada tinggi di sela-sela aksi sembari melakukan tabur bunga di tengah jalan sebagai simbol duka cita. Ia menyayangkan sikap pasif dan lambatnya respons dari para pemegang kebijakan di Kota Pasuruan.

    ​"Jalur alternatif ini sudah menjadi ‘jalur maut’. Sudah ada korban meninggal dunia, luka berat, hingga luka ringan. Namun, sampai detik ini tidak ada tindakan nyata dari pemangku kebijakan, termasuk para anggota DPRD Kota Pasuruan yang terkesan menutup mata," tegas Ayik dengan nada geram di hadapan massa aksi.

    ​Aksi ini tidak hanya membawa tuntutan dan kecaman, tetapi juga menyodorkan cetak biru solusi konkret demi menyelamatkan nyawa pengguna jalan. GM-FKPPI menilai tingginya angka kecelakaan fatal disebabkan oleh bercampurnya kendaraan pribadi (kecil) dengan kendaraan angkutan barang bermuatan berat di jalur arteri yang relatif sempit.

    ​Untuk itu, mereka menawarkan skema rekayasa lalu lintas sebagai berikut:
    ​Kendaraan dari Arah Surabaya (Barat): Truk berukuran besar (truk potong/trailer) wajib dilarang keras melintasi jalur umum perkotaan. Kendaraan berat ini harus dialihkan langsung untuk masuk memotong jalur melalui Exit Tol PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang). Jalur arteri kota hanya boleh diperuntukkan bagi kendaraan kecil, pickup, dan truk mini.
    ​Kendaraan dari Arah Probolinggo (Timur): 

    Seluruh kendaraan berat dari arah timur dipaksa masuk melalui Exit Tol Grati. Langkah ini dinilai mendesak agar tidak menambah beban volume kendaraan di dalam kota yang saat ini mengalami penyempitan parah akibat pengalihan ke jalur alternatif.

    ​Kecam Walikota dan DPRD: "Jangan 3D Tok!"
    ​Dalam orasinya, Ayik Suhaya juga melempar kritik pedas yang ditujukan langsung kepada jajaran eksekutif dan legislatif. Kinerja Walikota, Wakil Walikota, hingga jajaran DPRD Kota Pasuruan,khususnya para legislator yang berangkat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Gadingrejo menjadi sasaran kecaman utama. 

    Massa menilai para pejabat daerah tersebut kehilangan empati dan rasa kemanusiaan atas hilangnya nyawa warga di jalan raya.

    ​Ekspresi kekecewaan mendalam itu terpampang nyata lewat belasan banner protes yang dibentangkan di sepanjang jalan. Salah satu tulisan yang paling mencolok dan menyita perhatian pengguna jalan berbunyi: “Walikota dan wakil walikota jangan 3D tok… (Datang, Duduk dan Duit)”.

    ​massa sempat melakukan aksi pemblokiran jalan di kawasan Pertigaan Bukir. Akibatnya, arus lalu lintas sempat tersendat, namun pengamanan ketat dari aparat kepolisian setempat berhasil menjaga situasi tetap kondusif.

    ​Menjelang siang, aksi damai ini ditutup secara khidmat dengan doa bersama untuk para korban yang telah gugur di jalur maut tersebut. Setelah doa selesai, massa membubarkan diri dengan tertib dan teratur.

    Warga dan simpatisan GM-FKPPI memberikan peringatan keras (ultimatum) kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan dan instansi terkait. Jika usulan rekayasa lalu lintas tersebut tidak segera diimplementasikan dalam waktu dekat, masyarakat mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa yang jauh lebih besar.*(Irfan)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini