Teks Foto : Kantor Koperasi Merah Putih di Kelurahan Sukamaju tampak tutup hingga saat ini.
SNIPER86.COM, Binjai - Masyarakat Kelurahan Sukamaju, Binjai Barat, khususnya pengelola Koperasi Merah Putih yang diresmikan pada 21 Juli 2025, menyampaikan rasa kekecewaannya karena sejumlah janji program dari pemerintah belum terealisasikan hingga saat ini.
Koperasi yang merupakan bagian dari program nasional Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk 80 ribu koperasi merah putih se-Indonesia tersebut semula diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal, khususnya untuk mendukung 42 pabrik tahu dan sembilan pabrik tempe di kawasan Kampung Tahu Sukamaju yang memiliki potensi perputaran ekonomi hingga Rp 2,5 miliar per bulan.
Ketua Koperasi Merah Putih Sukamaju yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sejak peluncuran yang juga dihadiri Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dan Wali Kota Binjai, terdapat beberapa janji yang belum terealisasikan. Salah satunya adalah dana investasi sebesar Rp 3 Milyar yang awalnya diumumkan oleh Dinas Kooperasi sebagai dukungan dari pusat.
"Dana tersebut seharusnya digelontorkan sebagai investasi dari Presiden, namun sampai sekarang belum muncul ke rekening koperasi," ujar ketua koperasi.
Selain itu, kerja sama dengan BUMN yang awalnya menggunakan sistem kongsinasi (pasokan terlebih dahulu) untuk sembako, LPG, dan kebutuhan lainnya juga mengalami perubahan setelah peluncuran. Sistem kerja sama yang diatur dalam Perjanjian Kerjasama (PKS) diubah menjadi sistem pembayaran di muka, sehingga koperasi kesulitan untuk melanjutkan pemasokan barang setelah stok awal yang disiapkan untuk launching habis.
"Pada saat launching, barang-barang dipasok sebanyak-banyaknya. Namun setelah habis, kami harus membayar terlebih dahulu untuk mendapatkan barang dari BUMN. Kondisi ini menjadi tantangan karena koperasi masih memiliki keterbatasan modal dari iuran anggota yang tidak terlalu banyak," jelasnya.
Keterbatasan keuangan juga berdampak pada pengelolaan koperasi, termasuk pada pembayaran tenaga kerja yang awalnya ada dua orang, kini hanya tersisa satu orang karena keterbatasan anggaran.
Pada awal peluncuran, Gubernur Bobby Nasution menyampaikan bahwa koperasi tersebut akan mengembangkan tiga sektor utama yaitu kampung tahu, kampung perikanan, dan pengrajin bambu, serta memiliki klinik dengan obat-obatan yang lebih murah. Lurah Sukamaju Juliadi juga sebelumnya menyatakan harapan agar koperasi dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Namun, pengelola koperasi mengakui bahwa hingga saat ini pengembangan sektor-sektor tersebut belum dapat dijalankan secara maksimal. Mereka berharap dana bantuan segera dicairkan agar koperasi dapat beroperasi optimal dan juga dapat mengakomodir produk dari UMKM lokal.
"Kami sudah memiliki lahan seluas 30x35 meter yang siap digunakan untuk pembangunan fasilitas koperasi. Mohon agar pemerintah dapat mempercepat proses peninjauan dan pendukungnya, terutama karena kami sudah menjadi salah satu lokasi mock up program ini," pinta ketua koperasi.
Ia juga menyampaikan bahwa pihak pemerintah daerah sebelumnya belum dapat mengambil keputusan lebih lanjut karena masih menunggu arahan dari pusat.*(R-2)





