• Pencarian

    Copyright © sniper86.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Pemred


     

    Ketua DPRD Maluku


     

    DPRD Maluku


     

    Iklan Sekda Maluku


     

    Iklan Maluku


     

    Bio Fighter dari su.re.co: Mengurai Sampah Organik Jadi Kompos Cepat Tanpa Bau

    Jumat, 20 Februari 2026, 8:37:00 PM WIB Last Updated 2026-02-20T14:09:39Z

    SNIPER86.COM, Badung - su.re.co (Sustainable & Resilience Co) menyelenggarakan Workshop dengan tema "Regenerative Pathways for Sustainable Change: Waste, Agroforestry, and Bioeconomy Nexus" pada Rabu (18/2/2026) di Noema Resort, Pererenan, Bali. Acara dihadiri oleh Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, Anak Agung Dalem, aktivis lingkungan, akademisi, serta yayasan pengelola sampah.
     
    SU Reco merupakan perusahaan think do be tank berbasis di Bali yang didirikan oleh Prof.Dr. Takama asal Jepang. Perusahaan berfokus pada isu lingkungan, khususnya agroforestry (kopi dan coklat), energi terbarukan (biogas), serta adaptasi iklim melalui pendekatan berbasis sains dan aksi nyata. Di antara inovasinya adalah teknologi biogas bernama "Bio Fighter".
     
    Bio Fighter merupakan gas cair dengan teknologi EPN baru yang mampu melepaskan mikroorganisme secara massal. Selain memberikan solusi pengendalian hama secara luas pada berbagai tanaman secara organik tanpa zat kimia, produk ini juga mampu mengurangi kebutuhan insektisida kimia dan tidak menghasilkan bau selama proses pengolahan.
     
    Menurut Takama, Bio Fighter memiliki keunggulan dibandingkan teknologi biogas lainnya. Produk ini dapat mengurai sampah organik menjadi pupuk kompos hanya dalam waktu dua bulan, bahkan tanpa menghasilkan bau atau menarik lalat selama proses penguraian.
     
    "Banyak yang tidak sabar menunggu pembuatan pupuk kompos. Dengan produk ini, pengelolaan sampah jadi pupuk bisa lebih cepat, tidak berbau, dan tidak ada lalat," jelasnya.
     
    Takama menambahkan, 1 liter Bio Fighter mampu mengolah sebanyak 1 ton sampah organik dan dipercaya aman bagi tumbuhan karena tidak mengandung zat kimia.
     
    Salah satu peserta, I Made Darsana yang menjabat sebagai Ketua Bumdes dan Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Wanagiri, mengapresiasi produk ini. Sebagian besar warga desa tersebut berprofesi sebagai petani dan Desa Wanagiri juga berperan sebagai penyuplai air bagi tujuh desa lainnya, sehingga pola budidaya pertanian harus dilakukan secara organik agar sumber air tidak terkontaminasi zat kimia.
     
    "Desa Wanagiri adalah ibunya Buleleng Tengah dimana ada tujuh desa yang mengambil air di sini. Secara otomatis kami harus melakukan pertanian organik karena tidak ingin air yang disuplai mengandung zat kimia," ujarnya.
     
    Menurutnya, Bio Fighter sangat dibutuhkan di Desa Wanagiri untuk mengurai sampah organik menjadi pupuk kompos. "Jika menggunakan pupuk kimia, tanah tidak akan subur karena mikroba dan cacing pengurai tidak ada. Dengan pupuk organik, kita mengembalikan kesuburan tanah," imbuhnya.
     
    Pasca workshop, tim su reco melakukan peninjauan pengelolaan sampah ke beberapa lokasi, antara lain SD 2 Pererenan dan TPST Mengwi Tani. Pada Jumat (19/2/2026), tim tersebut juga melakukan kunjungan ke Desa Wanagiri, Buleleng.
     
    Kepala Sekolah SD 2 Pererenan, Made Arisandika, mengaku produk Bio Fighter sangat membantu penanganan sampah organik dari sisa makanan siswa. "Sangat membantu. Kalau tidak menggunakan Bio Fighter, pembusukannya lama dan berbau. Dengan produk ini, hanya dua bulan sudah jadi pupuk kompos," ungkapnya.
     
    Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Anak Agung Gede Dalem, menyampaikan bahwa Bio Fighter telah digunakan selama satu tahun di TPST dan PDU Mengwi Tani. "Kita sudah setahun membuat kompos, bukan lagi tahap uji coba. Sampai saat ini, teknologi ini sudah sangat cocok digunakan," katanya.
     
    Dari total sampah yang masuk ke TPST dan PDU Mengwi Tani, sebanyak 20% diolah menjadi kompos dengan kapasitas produksi hingga 17 ton per hari. "Kompos yang dihasilkan mencapai 17 ton setiap hari, atau sekitar 20% dari total sampah yang masuk," jelasnya.(Arifin)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini